Saturday, December 24, 2011
Wednesday, October 26, 2011
Demonstration at Iphoneography Exhibition
On Saturday, October 1 at EX Atrium, I did my first public demonstration after a while (It's probably been 3 months since my last one!). During this event, Bittersweet Corner collaborated with Iphonesia and Tea Rose Wedding Company to organize a Cupcake and Table Setting Demonstration. At the end of it, Iphone/Instagram users were supposed to snap the ready products as creatively as they can and submit it via Twitter. The top 3 winners would then win prizes. It was amazing how some of the images came out!
Tuesday, September 20, 2011
Tuesday, August 16, 2011
New Updates!
It’s been quite an eventful couple of months. First and foremost, I apologize for the lack of updates in the Bittersweet Blog. Our calendar has been filling up faster then expected (which is ofcourse amazing news!)
Here’s what you missed in July-
Ira’s Birthday Party
We haven’t had a request for a tea party until sweet bubbly Ira contacted me. Although I was going to be in Singapore, it was too great of an opportunity to miss. So I did what I can and left it to my assistant to make sure Ira got a lovely tea party. And indeed she did.
![]() |
| Green Tea Russian Teacakes as Party Favors |
![]() |
| The lovely Ira on Her Special Day |
![]() |
| Tea Party Marie Antoinette Style |
![]() |
| Birthday Cupcakes |
Instyle Fashion Show Catering
By now, our small team is already used to sudden requests of catering for events. However, the Instyle catering is by far the largest of them all. We prepared for 500 guests with menu that includes Nutella Brownies, Strawberry Tart, and Stuffed Mushrooms as the savory selection. We recruited extra help from my other office (Pansophia Indonesia Foundation- www.pansophiaindonesia.org) and had a percentage go to the foundation.
![]() |
| Bittersweet and Pansophia Catering Team |
![]() |
| Sea of mushrooms, strawberry tarts, and nutella brownies |
![]() |
Our Wall of Fame
If you haven’t dropped by the store recently, we’ve added some cozy elements to our little corner. We’ve put up several of our articles and reviews on the wall as a dedication of thanks to those who have featured us. It adds to the whole general homey feel of our store don’t you think?
“How to Make Macaroons” on TV1 Coffee Break
For those who missed us, we were on our first TV feature on Friday, 12th. But don’t worry; here are the instructions for those who missed the demonstration on “How to Make Macaroons”
![]() |
| On location shooting w/ TV1 team |
![]() |
| What an unattractive picture! But oh well |
![]() |
| Our pretty macaroon chef's face was covered :( |
Green Tea Macaroons Ingredients-
Macaron recipe (yield: 20 macarons)
Egg whites 90 g
Sugar 125 g
Almond meal 125 g
Icing sugar 125 g
Green tea powder 5g
Green tea butter cream:
Butter 100g
Icing sugar 50g
Green tea powder 5g
Directions-
1. Sieve all the dry ingredients
2. Whip egg whites with sugar (firm consistency).
3. Add in almond meal, icing sugar and green tea powder to meringue.
4. Then fold it slowly until well mix.
5. Put macaroon mixture to piping bag and pipe it on the baking tray approximately 3cm-4cm
6. Leave piped macaroon at room temperature for 15mins.
7. Bake macaroon at 180 degrees for approximately 8 mins
Filling
1. Mix room temperature unsalted butter until creamy and add in icing sugar with green tea powder.
2. Stick macaron with butter cream (let the macaron cool it down on the tray first then take it off slowly)
Friday, July 8, 2011
Sweet deals for our sweet fans..

Thank you to all families, friends,supporters, readers. We have been overwhelmed with our recent exposure in a national newspaper, Kompas. Without all of you, our sweat, tears and effort will not materialise to something so delicious :)
On another account, we are happy that a recently launched online discount coupon online marketer KrisKros has approached us to carry out our first online discount coupon deal - exclusively to our fans (of course :)).
There will be more exciting happenings from our little store around the corner from tea parties, launch events and not forgetting our presence in Potato Head Sunday Food Market (24 Jul). Our chef, Elaine Marlene, has concocted ice-cream flavoured cupcakes to entice your palates.
Keep updated and send us your comments.
Have a great weekend!!!
On another account, we are happy that a recently launched online discount coupon online marketer KrisKros has approached us to carry out our first online discount coupon deal - exclusively to our fans (of course :)).
There will be more exciting happenings from our little store around the corner from tea parties, launch events and not forgetting our presence in Potato Head Sunday Food Market (24 Jul). Our chef, Elaine Marlene, has concocted ice-cream flavoured cupcakes to entice your palates.
Keep updated and send us your comments.
Have a great weekend!!!
Monday, June 27, 2011
Pahit-Manis Pilihan ELAINE (Kompas Urban Sunday 26 Jun 2011)

Pahit-Manis Pilihan ELAINE
Dari tangannya lahir fruit tart, kue yang kesohor di antara warga Indonesia di Boston, AS. Dari tangannya juga, lahir sebuah kedai pastry di Jakarta. Toh, semua itu hanya jalan untuk menopang kerja utamanya: membangun pendidikan bagi anak-anak miskin.
Cappuccino panas, fruit tart, dan carrot cake menjadi menu pembuka obrolan pagi itu. Elaine Marlene (24), pemilik sekaligus chef di kafe Bittersweet Corner, menunjuk pada deretan kue yang ada di balik lemari kaca. Ada macaroon, lemon tart, aneka cupcakes, caramel tart. ”Saya sendiri yang memanggang semua kue ini tadi pagi,” kata perempuan cantik berperawakan tinggi semampai ini.
Elaine tak pernah kursus, apalagi sekolah membuat kue. Bakatnya itu muncul tiba-tiba di waktu yang tak terduga. Awalnya, ia prihatin melihat teman-teman kuliahnya di Boston menghabiskan uang yang cukup banyak untuk katering sebuah pertemuan. ”Mereka menghabiskan ratusan dollar untuk sebotol wine. Sungguh pemborosan. Akhirnya saya menawarkan diri untuk membuatkan kue buat mereka,” katanya.
Di kamar kosnya, Elaine memiliki oven kecil. Setelah mencari resep di internet, ia nekat membuat kue. Ia modifikasi resep yang dibacanya, menambah ini dan itu, sampai cocok dengan lidahnya. ”Pastry sebaiknya tidak terlalu manis. Dan untuk racikan yang menggunakan cream cheese sebaiknya dipadukan dengan buah-buahan yang agak asam, seperti stroberi, kiwi, atau blueberry. Saya juga coba berulang-ulang bagaimana agar dasar kue tidak lembek, tapi tetap crispy. Ternyata kue buatan saya itu banyak yang suka, dan mereka langsung memesan lagi,” katanya.
Dari mulut ke mulut popularitas fruit tart buatan Elaine sampai di komunitas Indonesia di Boston. ”Dalam waktu sebulan, lebih dari 150 warga Indonesia di sana sudah tahu kue saya,” katanya.
Tapi, bagi Elaine, bukan soal kepopuleran kuenya yang penting. Yang lebih utama ialah apa yang bisa dia lakukan dengan hobinya itu. ”Saya selalu katakan kepada teman-teman bahwa satu atau dua dollar itu matters untuk anak-anak miskin di Indonesia, terutama untuk pendidikan mereka. Saya ingin menggabungkan hobi memanggang ini dengan charity,” katanya.
Bersama beberapa sahabatnya, ia kemudian mendirikan Greater Indonesian Future Through Sponsorships (GIFTS) di Boston. ”Kami banyak mengadakan acara, entah itu bentuknya entertainment atau party, atau sekadar pertemuan. Kami tidak meminta uang kepada mereka, tetapi mereka membayar untuk hidangannya. Uang yang kami peroleh semuanya kami sumbangkan untuk anak-anak di Indonesia. Begitu seterusnya,” kata Elaine yang harus membagi waktunya dengan ketat antara kuliah, membuat kue, dan pekerjaan paruh waktu.
”Saya tahu bahwa saya di sana untuk sekolah, jadi kuliah tetap prioritas. Tapi kalau antara tidur dan memanggang kue, ya saya prioritaskan kuenya, karena saya tidak enak kalau tidak bisa memenuhi permintaan pemesan. Jadi, saya biasa memanggang dari malam sampai jam 3 pagi,” katanya.
Kalau membuat kue hanya sekadar hobi, maka pekerjaan sampingannya adalah menjadi fashion buyer dari produk-produk berlabel internasional. Ini pun ada latar belakangnya. Lulus dari Jakarta International School, Elaine tidak langsung daftar ke universitas. Ia ingin bekerja dulu selama satu tahun di Indonesia. Jadilah ia mengajar bahasa Inggris, bekerja di beberapa butik kelas atas di Jakarta dengan aneka jabatan. Mulai dari mengorganisasi pertemuan antara pembeli dan suppliers, menjadi sales marketing, membuat profil perusahaan, website, fashion stylist, sampai menjadi humas.
”Lewat pengalaman bekerja di Indonesia itulah saya menjadi buyer sejumlah brand, terutama untuk pakaian dalam dan tidur. Setiap hari Sabtu-Minggu, saya naik bis ke New York untuk bertemu langsung dengan para brand representatives, seperti dari Oscar de la Renta, Betsy Johnson, dan lain-lain,” kata Elaine yang melewatkan sekolah dasar di Singapura dan sekolah menengah di Amerika.
Semua untuk yayasan
Setelah lulus dari Northeastern University (dengan GPA 3,6) tahun 2010, teman-temannya menganjurkan Elaine untuk tetap meneruskan hobinya membuat kue. Berkat bantuan temannya, sebulan kemudian ia telah menemukan tempat yang strategis di Plaza Indonesia. Berdirilah gerai Bittersweet Corner.
”Modalnya dari tabungan saya, bukan dari orangtua. Saya kerjakan semua sendiri, mulai dari desain, membuat website, profil perusahaan, pemasaran, pengadaan barang, sampai membuat kue. Jadi, setiap hari saya bangun pukul 05.00 pagi untuk memanggang kue-kue yang dijual di sini,” katanya.
Tapi, lagi-lagi ini hanya hobi. ”Pekerjaan utama saya adalah di Yayasan Pansophia Indonesia, saya di sini full time,” kata Elaine, yang menjadi humas sekaligus mengurus operasional di yayasan tersebut. Pansophia Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang mengupayakan agar anak-anak miskin bisa menikmati pendidikan yang layak di usia emasnya.
”Kami mendirikan sekolah di Dadap, Cikarang, dan di Karang Tengah, khusus untuk anak-anak yang berusia 3-5 tahun dengan fasilitas pendidikan yang baik. Semuanya gratis. Mereka memperoleh makan dua kali sehari, seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah,” kata Elaine yang awalnya sempat menjadi guru bahasa Inggris di sana.
Sekolah ini diterima dengan positif oleh komunitas Dadap. ”Banyak ibu yang tidak ingin anaknya lulus dari sekolah ini karena mereka sudah melihat perubahan positif pada perilaku anaknya sehari-hari,” kata Elaine.
Kini, ia mencoba mengembangkan sistem ”anak asuh” untuk membiayai anak-anak di Dadap agar bisa lebih banyak lagi yang belajar di sekolah itu. ”Biaya per anak sekitar Rp 300.000 per bulan, jadi kita mencari orangtua asuh yang berminat untuk menjadi donor selama sebulan, dua bulan, setahun, tergantung kemampuan. Saat ini sudah ada 35 orangtua asuh. Sedangkan murid kami ada 100 orang di dadap dan 20 orang di Karang Tengah,” katanya.
Bukan hanya itu, dengan jaringan pergaulannya yang luas, Elaine juga ingin merintis kerja sama dengan sekolah-sekolah yang memiliki kurikulum pelayanan sosial (community service). ”Para anak-anak SMA itu bisa menjadi sukarelawan di sini. Sewaktu kuliah dulu saya mengikuti program Big Sisters-Big Brothers. Kita memiliki semacam adik asuh. Tidak harus selalu membantu sebagai tutor pelajaran, kadang yang dibutuhkan adalah bagaimana memperkuat self-esteem mereka. Saya ingin mengembangkan program seperti itu di sini,” katanya.
Di usianya yang belia, Elaine telah tahu apa yang ingin dilakukannya bagi dirinya dan bagi masyarakat di sekitarnya. Dia langsung berbuat, tanpa harus banyak bicara....
-------------
p.s: many thanks for such lovely front page review from Kompas. We apologise for not updating our blogger but we shall attempt to do when we are not busy baking and serving lovely treats to you guys! :)
Dari tangannya lahir fruit tart, kue yang kesohor di antara warga Indonesia di Boston, AS. Dari tangannya juga, lahir sebuah kedai pastry di Jakarta. Toh, semua itu hanya jalan untuk menopang kerja utamanya: membangun pendidikan bagi anak-anak miskin.
Cappuccino panas, fruit tart, dan carrot cake menjadi menu pembuka obrolan pagi itu. Elaine Marlene (24), pemilik sekaligus chef di kafe Bittersweet Corner, menunjuk pada deretan kue yang ada di balik lemari kaca. Ada macaroon, lemon tart, aneka cupcakes, caramel tart. ”Saya sendiri yang memanggang semua kue ini tadi pagi,” kata perempuan cantik berperawakan tinggi semampai ini.
Elaine tak pernah kursus, apalagi sekolah membuat kue. Bakatnya itu muncul tiba-tiba di waktu yang tak terduga. Awalnya, ia prihatin melihat teman-teman kuliahnya di Boston menghabiskan uang yang cukup banyak untuk katering sebuah pertemuan. ”Mereka menghabiskan ratusan dollar untuk sebotol wine. Sungguh pemborosan. Akhirnya saya menawarkan diri untuk membuatkan kue buat mereka,” katanya.
Di kamar kosnya, Elaine memiliki oven kecil. Setelah mencari resep di internet, ia nekat membuat kue. Ia modifikasi resep yang dibacanya, menambah ini dan itu, sampai cocok dengan lidahnya. ”Pastry sebaiknya tidak terlalu manis. Dan untuk racikan yang menggunakan cream cheese sebaiknya dipadukan dengan buah-buahan yang agak asam, seperti stroberi, kiwi, atau blueberry. Saya juga coba berulang-ulang bagaimana agar dasar kue tidak lembek, tapi tetap crispy. Ternyata kue buatan saya itu banyak yang suka, dan mereka langsung memesan lagi,” katanya.
Dari mulut ke mulut popularitas fruit tart buatan Elaine sampai di komunitas Indonesia di Boston. ”Dalam waktu sebulan, lebih dari 150 warga Indonesia di sana sudah tahu kue saya,” katanya.
Tapi, bagi Elaine, bukan soal kepopuleran kuenya yang penting. Yang lebih utama ialah apa yang bisa dia lakukan dengan hobinya itu. ”Saya selalu katakan kepada teman-teman bahwa satu atau dua dollar itu matters untuk anak-anak miskin di Indonesia, terutama untuk pendidikan mereka. Saya ingin menggabungkan hobi memanggang ini dengan charity,” katanya.
Bersama beberapa sahabatnya, ia kemudian mendirikan Greater Indonesian Future Through Sponsorships (GIFTS) di Boston. ”Kami banyak mengadakan acara, entah itu bentuknya entertainment atau party, atau sekadar pertemuan. Kami tidak meminta uang kepada mereka, tetapi mereka membayar untuk hidangannya. Uang yang kami peroleh semuanya kami sumbangkan untuk anak-anak di Indonesia. Begitu seterusnya,” kata Elaine yang harus membagi waktunya dengan ketat antara kuliah, membuat kue, dan pekerjaan paruh waktu.
”Saya tahu bahwa saya di sana untuk sekolah, jadi kuliah tetap prioritas. Tapi kalau antara tidur dan memanggang kue, ya saya prioritaskan kuenya, karena saya tidak enak kalau tidak bisa memenuhi permintaan pemesan. Jadi, saya biasa memanggang dari malam sampai jam 3 pagi,” katanya.
Kalau membuat kue hanya sekadar hobi, maka pekerjaan sampingannya adalah menjadi fashion buyer dari produk-produk berlabel internasional. Ini pun ada latar belakangnya. Lulus dari Jakarta International School, Elaine tidak langsung daftar ke universitas. Ia ingin bekerja dulu selama satu tahun di Indonesia. Jadilah ia mengajar bahasa Inggris, bekerja di beberapa butik kelas atas di Jakarta dengan aneka jabatan. Mulai dari mengorganisasi pertemuan antara pembeli dan suppliers, menjadi sales marketing, membuat profil perusahaan, website, fashion stylist, sampai menjadi humas.
”Lewat pengalaman bekerja di Indonesia itulah saya menjadi buyer sejumlah brand, terutama untuk pakaian dalam dan tidur. Setiap hari Sabtu-Minggu, saya naik bis ke New York untuk bertemu langsung dengan para brand representatives, seperti dari Oscar de la Renta, Betsy Johnson, dan lain-lain,” kata Elaine yang melewatkan sekolah dasar di Singapura dan sekolah menengah di Amerika.
Semua untuk yayasan
Setelah lulus dari Northeastern University (dengan GPA 3,6) tahun 2010, teman-temannya menganjurkan Elaine untuk tetap meneruskan hobinya membuat kue. Berkat bantuan temannya, sebulan kemudian ia telah menemukan tempat yang strategis di Plaza Indonesia. Berdirilah gerai Bittersweet Corner.
”Modalnya dari tabungan saya, bukan dari orangtua. Saya kerjakan semua sendiri, mulai dari desain, membuat website, profil perusahaan, pemasaran, pengadaan barang, sampai membuat kue. Jadi, setiap hari saya bangun pukul 05.00 pagi untuk memanggang kue-kue yang dijual di sini,” katanya.
Tapi, lagi-lagi ini hanya hobi. ”Pekerjaan utama saya adalah di Yayasan Pansophia Indonesia, saya di sini full time,” kata Elaine, yang menjadi humas sekaligus mengurus operasional di yayasan tersebut. Pansophia Indonesia merupakan organisasi nirlaba yang mengupayakan agar anak-anak miskin bisa menikmati pendidikan yang layak di usia emasnya.
”Kami mendirikan sekolah di Dadap, Cikarang, dan di Karang Tengah, khusus untuk anak-anak yang berusia 3-5 tahun dengan fasilitas pendidikan yang baik. Semuanya gratis. Mereka memperoleh makan dua kali sehari, seragam, sepatu, dan perlengkapan sekolah,” kata Elaine yang awalnya sempat menjadi guru bahasa Inggris di sana.
Sekolah ini diterima dengan positif oleh komunitas Dadap. ”Banyak ibu yang tidak ingin anaknya lulus dari sekolah ini karena mereka sudah melihat perubahan positif pada perilaku anaknya sehari-hari,” kata Elaine.
Kini, ia mencoba mengembangkan sistem ”anak asuh” untuk membiayai anak-anak di Dadap agar bisa lebih banyak lagi yang belajar di sekolah itu. ”Biaya per anak sekitar Rp 300.000 per bulan, jadi kita mencari orangtua asuh yang berminat untuk menjadi donor selama sebulan, dua bulan, setahun, tergantung kemampuan. Saat ini sudah ada 35 orangtua asuh. Sedangkan murid kami ada 100 orang di dadap dan 20 orang di Karang Tengah,” katanya.
Bukan hanya itu, dengan jaringan pergaulannya yang luas, Elaine juga ingin merintis kerja sama dengan sekolah-sekolah yang memiliki kurikulum pelayanan sosial (community service). ”Para anak-anak SMA itu bisa menjadi sukarelawan di sini. Sewaktu kuliah dulu saya mengikuti program Big Sisters-Big Brothers. Kita memiliki semacam adik asuh. Tidak harus selalu membantu sebagai tutor pelajaran, kadang yang dibutuhkan adalah bagaimana memperkuat self-esteem mereka. Saya ingin mengembangkan program seperti itu di sini,” katanya.
Di usianya yang belia, Elaine telah tahu apa yang ingin dilakukannya bagi dirinya dan bagi masyarakat di sekitarnya. Dia langsung berbuat, tanpa harus banyak bicara....
-------------
p.s: many thanks for such lovely front page review from Kompas. We apologise for not updating our blogger but we shall attempt to do when we are not busy baking and serving lovely treats to you guys! :)
Subscribe to:
Posts (Atom)



























